Setelah beberapa hari ini berkutat dengan aplikasi pendidikan, datang saatnya beralih ke artikel berupa ulasan terkait dengan dunia pendidikan utamanya pendidikan anak usia dini (PAUD), baik itu berupa Taman Kanak-kanak ataupun RA, yang saya beri judul "Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini".
Kita tahu bahwa cara berguru anak usia dini tidak sama dengan cara berguru anak ditingkat dasar dan menengah. Berikut sajikan beberapa Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini, yang bisa memotivasi anda sebagai guru atau orang bau tanah dalam memahami huruf berguru anak didalam atau diluar sekolah.
Anak berguru secara bertahap
Anak berguru bertahap sesuai dengan kematangan perkembangan berpikirnya. Anak berguru dari mulai segala sesuatu yang konkrit, yang sanggup dirasakan oleh inderanya. Anak seorang pembelajar alami dan sangat bahagia belajar. Anak berguru mulai dengan cara menarik, mendorong, merasakan, mencicipi, menemukan, menggerak-gerakan dengan banyak sekali cara yang disukainya. Anak berguru semenjak lahir dan sebetulnya anak bahagia berguru dan mencari pemecahan dari problem yang dihadapinya.
Cara berpikir anak bersifat khas
Cara anak berpikir berakar dari pengalamannya sehari-hari. Pengalaman yang sangat membantu dan berharga bagi anak didapat dari enam sumber yakni:
pengalaman sensory
pengalaman berbahasa
latar belakang budaya
teman sepermainan
media masa, dan
kegiatan saintis.
Cara anak berpikir perihal dunia sekelilingnya juga menghipnotis pemahamannya perihal konsep saintis.
Anak cenderung melihat sesuatu berpusat pada dirinya sendiri atau cara memandang kemanusiaan. Misalnya dikala bonekanya ditinggal di bangku, anak berkata "tunggu ya disitu jangan nakal." Kaprikornus anak selalu memakai sisi kemanusiaan terhadap benda-benda atau kejadian. Seringkali anak memakai kata-kata yang makna berbeda dengan makna orang remaja atau pada umumnya. Misalnya "kemarin saya pergi ke pasar sama ibu." Kata kemarin bukan berarti sebelum hari ini, tetapi bisa jadi ahad lalu, dua hari lalu, atau gres saja terlewati. Hal ini alasannya yaitu konsep waktu pada anak belum cukup matang.
Anak berguru dengan banyak sekali cara
Anak bahagia mengamati dan berpikir perihal lingkungannya. Anak termotivasi untuk mengeksplor dunia sekitarnya dengan caranya sendiri. Terkadang cara anak berguru tidak dipahami orang dewasa, sehingga dianggap anak ini sedang bermain tanpa makna atau bahkan sebaliknya ia berbuat sesuatu yang nakal.
Anak berguru satu sama lain dalam lingkungan sosial
Anak terlibat aktif dengan lingkungannya untuk menyebarkan pemahaman fundamental perihal fenomena yang anak amati dan lakukan. Anak juga membangun keterampilan proses saintis yang sangat penting yaitu mengamati, mengklasisikasikan, dan juga mengelompokkan.
Anak berguru banyak pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi dengan lingkungannya. Kemampuan berbahasa, kemampuan sosial-emosional, dan kemampuan lainnya berkembang pesat bila anak diberi kesempatan bersosialisasi dengan teman, benda, alat main, dan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Anak berguru melalui bermain
Bermain membantu menyebarkan banyak sekali potensi anak. Melalui bermain anak diajak bereksplorasi, menemukan, dan memanfaatkan objek-objek yang bersahabat dengan anak, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak.
5 Karakteristik Cara Belajar Anak Usia Dini. Pembelajaran dilaksanakan melalui pendekatan saintifik dalam proses bermain. Oleh sebab itu penyelenggaraan pembelajaran disajikan dalam suasana menyenangkan sehingga menarik minat anak. Proses penyelenggaraan pembelajaran diupayakan sanggup membangun gagasan untuk mengekspresikan kebebasan, imajinasi, dan kreativitas sehingga sanggup menyebarkan nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional dan seni sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan anak.
Agar pelaksanaan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan diharapkan pedoman pembelajaran sesuai dengan karakteristik anak yang mengacu pada kurikulum PAUD 2013 yang sanggup menjadi contoh bagi pendidik di lapangan.
Dalam Kegiatan Pembelajaran pada Pendidikan anak usia dini harus diadaptasi dengan beberapa hal, salah satunya yaitu memperhatikan karakteristik cara mencar ilmu anak usia dini berikut ini:
1. Anak mencar ilmu secara bertahap
Anak mencar ilmu sedikit demi sedikit sesuai dengan kematangan perkembangan berpikirnya. Anak mencar ilmu dari mulai segala sesuatu yang konkrit, yang sanggup dirasakan oleh inderanya. Anak seorang pembelajar alami dan sangat bahagia mencar ilmu (Raffini, 1993). Anak mencar ilmu mulai dengan cara menarik, mendorong, merasakan, mencicipi, menemukan, menggerak-gerakan dengan banyak sekali cara yang disukainya. Anak mencar ilmu semenjak lahir dan sebenarnya anak bahagia mencar ilmu dan mencari pemecahan dari duduk kasus yang dihadapinya. (Lind, 1999, p. 79).
2. Cara berpikir anak bersifat khas
Duit and Treagust (1995) menyatakan bahwa cara anak berpikir berakar dari pengalamannya sehari-hari. Cara anak berpikir ihwal dunia sekelilingnya juga mensugesti pemahamannya ihwal konsep saintis. Pengalaman yang sangat membantu dan berharga bagi anak didapat dari enam sumber yakni:
pengalaman sensory,
pengalaman berbahasa,
latar belakang budaya,
teman sepermainan,
media masa, dan
kegiatan saintis.
Anak cenderung melihat sesuatu berpusat pada dirinya sendiri atau cara memandang kemanusiaan. Misalnya dikala bonekanya ditinggal di bangku, anak berkata “tunggu ya disitu jangan nakal.” Makara anak selalu memakai sisi kemanusiaan terhadap benda-benda atau kejadian. Seringkali anak memakai kata-kata yang makna berbeda dengan makna orang cukup umur atau pada umumnya. Misalnya “kemarin saya pergi ke pasar sama ibu.” Kata kemarin bukan berarti sebelum hari ini, tetapi bisa jadi ahad lalu, dua hari lalu, atau gres saja terlewati. Hal ini sebab konsep waktu pada anak belum cukup matang.
3. Anak-anak mencar ilmu dengan banyak sekali cara
Anak bahagia mengamati dan berpikir ihwal lingkungannya (Eshach & Fried, 2005; Ramey-Gassert, 1997). Anak termotivasi untuk mengeksplor dunia sekitarnya dengan caranya sendiri (French, 2004). Terkadang cara anak mencar ilmu tidak dipahami orang dewasa, sehingga dianggap anak ini sedang bermain tanpa makna atau bahkan sebaliknya ia berbuat sesuatu yang nakal.
4. Anak mencar ilmu satu sama lain dalam lingkungan sosial
Anak terlibat aktif dengan lingkungannya untuk menyebarkan pemahaman fundamental ihwal fenomena yang anak amati dan lakukan. Anak juga membangun keterampilan proses saintis yang sangat penting yaitu mengamati, mengklasisikasikan, dan juga mengelompokkan. (Eshach & Fried, 2005; Platz, 2004).
Anak mencar ilmu banyak pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi dengan lingkungannya. Kemampuan berbahasa, kemampuan sosial-emosional, dan kemampuan lainnya berkembang pesat bila anak diberi kesempatan bersosialisasi dengan teman, benda, alat main, dan orang-orang yang ada di sekitarnya.
5. Anak mencar ilmu melalui bermain
Bermain membantu menyebarkan banyak sekali potensi anak. Melalui bermain anak diajak bereksplorasi, menemukan, dan memanfaatkan objek-objek yang bersahabat dengan anak, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak.
Kerangka Dasar Kurikulum 2013 PAUD RA Taman Kanak-kanak KB. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan pendidikan yang paling mendasar alasannya yaitu perkembangan anak di masa selanjutnya akan sangat ditentukan oleh banyak sekali stimulasi bermakna yang diberikan semenjak usia dini. Awal kehidupan anak merupakan masa yang paling sempurna dalam menunjukkan dorongan atau upaya pengembangan semoga anak sanggup berkembang secara optimal.
Masa usia dini yaitu masa emas perkembangan anak dimana semua aspek perkembangan sanggup dengan gampang distimulasi. Periode emas ini hanya berlangsung satu kali sepanjang rentang kehidupan manusia. Oleh alasannya yaitu itu, pada masa usia dini perlu dilakukan upaya pengembangan menyeluruh yang melibatkan aspek pengasuhan, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan.
Karakteristik Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini
Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:
mengoptimalkan perkembangan anak yang meliputi: aspek nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, dan seni yang tercermin dalam keseimbangan kompetensi sikap, pengetahun, dan keterampilan;
menggunakan pembelajaran tematik dengan pendekatan saintifik dalam pinjaman rangsangan pendidikan;
menggunakan evaluasi autentik dalam memantau perkembangan anak; dan
memberdayakan tugas orang renta dalam proses pembelajaran.
Tujuan Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini
Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini bertujuan untuk mendorong berkembangnya potensi anak semoga mempunyai kesiapan untuk menempuh pendidikan selanjutnya.
Kerangka Dasar Kurikulum 2013 PAUD RA TK
A. Landasan Filosofis Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan dengan sejumlah landasan filosofis yang menunjukkan dasar bagi pengembangan seluruh potensi anak semoga menjadi insan Indonesia berkualitas sebagaimana yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. Berdasarkan hal tersebut, Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan dengan memakai landasan filosofis sebagai berikut.
1. Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa sekarang dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan menurut budaya bangsa Indonesia yang bermacam-macam dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, sehingga pendidikan diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. Sehubungan dengan itu, Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dirancang untuk sanggup menunjukkan pengalaman mencar ilmu yang luas bagi anak semoga mereka bisa mempunyai landasan untuk menguasai kompetensi yang diharapkan bagi kehidupan di masa sekarang dan masa depan, serta membuatkan kemampuan sebagai pewaris budaya bangsa yang kreatif dan peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa.
2. Anak yaitu pewaris budaya bangsa yang kreatif. Menurut pandangan filosofi ini, prestasi bangsa di banyak sekali bidang kehidupan di masa lampau yaitu sesuatu yang harus termuat dalam isi kurikulum untuk memberi wangsit dan rasa besar hati pada anak. Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini memposisikan keunggulan budaya untuk menimbulkan rasa besar hati yang tercermin, dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan berbangsa.
3. Dalam proses pendidikan, anak usia dini membutuhkan keteladanan, motivasi, pengayoman/perlindungan, dan pengawasan secara berkesinambungan sebagaimana dicontohkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam filosofi: ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.
4. Usia dini yaitu masa dikala anak menghabiskan sebagian besar waktu untuk bermain. Karenanya pembelajaran pada PAUD dilaksanakan melalui bermain dan kegiatan-kegiatan yang mengandung prinsip bermain.
B. Landasan Sosiologis Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat setempat.
Masyarakat Indonesia yaitu masyarakat yang sangat beragam. Satuan PAUD merupakan representasi dari masyarakat yang bermacam-macam baik dari aspek strata sosial-ekonomi, budaya, etnis, agama, kondisi fisik maupun mental. Untuk mengakomodasi keberagaman itu, Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan secara inklusif untuk memberi dasar terbentuknya sikap saling menghargai dan tidak membeda-bedakan.
C. Landasan Psiko-Pedagogis Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan dengan mengacu pada cara mendidik anak sebagai individu yang unik, mempunyai kecepatan perkembangan yang berbeda, dan belum mencapai masa operasional konkret, dan hasilnya dipakai pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tahapan perkembangan dan potensi setiap anak.
D. Landasan Teoritis Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dikembangkan dengan mengacu pada teori pendidikan berbasis standar dan kurikulum berbasis kompetensi. Pendidikan berbasis standar tetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal penyelenggaraan pendidikan. Standar tersebut terdiri dari standar tingkat pencapaian perkembangan anak, standar isi, standar proses, standar evaluasi pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.
Proses pengembangan kurikulum secara eksklusif berlandaskan pada empat standar yakni standar tingkat pencapaian perkembangan anak, standar isi, standar proses, dan standar evaluasi pendidikan. Sementara itu, empat standar lainnya dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung implementasi kurikulum.
Kurikulum berbasis kompetensi dirancang untuk menunjukkan pengalaman mencar ilmu seluas-luasnya bagi anak untuk membuatkan kemampuan yang berupa sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini menerapkan pembelajaran dalam bentuk pinjaman pengalaman mencar ilmu eksklusif kepada anak yang dirancang sesuai dengan latar belakang, karakteristik, dan usia anak.
E. Landasan Yuridis Landasan yuridis Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini adalah:
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 ihwal Sistem Pendidikan Nasional;
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2005 ihwal Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, beserta segala ketentuan yang dituangkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional;
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 ihwal Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 ihwal Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 ihwal Standar Nasional Pendidikan; dan
Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2013 Tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif.
Struktur Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini merupakan pengorganisasian muatan kurikulum, Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, dan usang belajar.
A. Muatan Kurikulum Muatan kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini berisi program-program pengembangan yang terdiri dari:
Program pengembangan nilai agama dan adab meliputi perwujudan suasana mencar ilmu untuk berkembangnya sikap baik yang bersumber dari nilai agama dan adab serta bersumber dari kehidupan bermasyarakat dalam konteks bermain.
Program pengembangan fisik-motorik meliputi perwujudan suasana untuk berkembangnya kematangan kinestetik dalam konteks bermain.
Program pengembangan kognitif meliputi perwujudan suasana untuk berkembangnya kematangan proses berpikir dalam konteks bermain.
Program pengembangan bahasa meliputi perwujudan suasana untuk berkembangnya kematangan bahasa dalam konteks bermain.
Program pengembangan sosial-emosional meliputi perwujudan suasana untuk berkembangnya kepekaan, sikap, dan keterampilan sosial serta kematangan emosi dalam konteks bermain.
Program pengembangan seni meliputi perwujudan suasana untuk berkembangnya eksplorasi, ekspresi, dan apresiasi seni dalam konteks bermain.
B. Kompetensi Inti Kompetensi Inti Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini merupakan citra pencapaian Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak pada final layanan PAUD usia 6 (enam) tahun. Kompetensi Inti mencakup:
Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual.
Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial.
Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan.
Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.
C. Kompetensi Dasar Kompetensi Dasar merupakan tingkat kemampuan dalam konteks muatan pembelajaran, tema pembelajaran, dan pengalaman mencar ilmu yang mengacu pada Kompetensi Inti. Rumusan Kompetensi Dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik dan kemampuan awal anak serta tujuan setiap aktivitas pengembangan. Kompetensi Dasar dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan pengelompokkan kompetensi inti yaitu:
Kelompok 1: kelompok Kompetensi Dasar sikap spiritual dalam rangka menjabarkan KI-1;
Kelompok 2: kelompok Kompetensi Dasar sikap sosial dalam rangka menjabarkan KI-2;
Kelompok 3: kelompok Kompetensi Dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI-3; dan
Kelompok 4: kelompok Kompetensi Dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan KI-4.
Indikator Pencapaian Perkembangan Anak Usia Dini
Indikator pencapaian perkembangan anak yaitu penanda perkembangan yang spesifik dan terukur untuk memantau/menilai perkembangan anak pada usia tertentu.
Indikator pencapaian perkembangan anak merupakan kontinum/rentang perkembangan anak semenjak lahir hingga dengan usia 6 tahun.
Indikator pencapaian perkembangan anak berfungsi untuk memantau perkembangan anak dan bukan untuk dipakai secara eksklusif baik sebagai materi bimbing maupun kegiatan pembelajaran.
Indikator pencapaian perkembangan anak dirumuskan menurut Kompetensi Dasar (KD).
Kompetensi Dasar (KD) dirumuskan menurut Kompetensi Inti (KI).
Kompetensi Inti (KI) merupakan citra pencapaian Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak pada final layanan PAUD usia enam tahun yang dirumuskan secara terpadu dalam bentuk KI Sikap Spiritual, KI Sikap Sosial, KI Pengetahuan, dan KI Keterampilan.
Indikator pencapaian perkembangan anak untuk KD pada KI Sikap Spiritual dan KD pada KI Sikap Sosial tidak dirumuskan secara tersendiri. Pembelajaran untuk mencapai KD-KD ini dilakukan secara tidak langsung, tetapi melalui pembelajaran untuk KD-KD pada KI Pengetahuan dan KI Keterampilan. Dengan kata lain, sikap positif anak akan terbentuk dikala ia mempunyai pengetahuan dan mewujudkan pengetahuan itu dalam bentuk hasil karya dan/atau unjuk kerja.
Indikator pencapaian perkembangan anak untuk KD pada pengetahuan dan KD pada keterampilan merupakan satu kesatuan alasannya yaitu pengetahuan dan keterampilan merupakan dua hal yang saling berinteraksi.
Sebelumnya sudah dibagikan kumpulan aplikasi sekolah Gratis, kali ini juga akan membagikan Kumpulan File Lengkap Aplikasi, Perangkat Metode Belajar, BOP PAUD Taman Kanak-kanak RA kepada sahabat semua. Saya kumpulkan dalam satu artikel banyak sekali aplikasi, metode dan perangkat berguru dan pembelajaran anak usia dini, kurikulum PAUD, Taman Kanak-kanak dan RA.
Semuanya mencakup; macam-macam metode dan seni administrasi pembelajaran anak usia dini, teknik pembelajarn PAUD, aplikasi data siswa, penyusunan kurikulum, RPPM/RPPH, promes prota, SPJ BOP, dan masih banyak lagi.
Download File Lengkap Aplikasi, Perangkat dan Metode Belajar, BOP PAUD Taman Kanak-kanak RA
Selengkapnya dapat anda download pada link berikut ini:
Demikian artikel membuatkan dari perihal Kumpulan File Lengkap Aplikasi, Perangkat Metode Belajar, BOP PAUD Taman Kanak-kanak RA. Untuk selengkapnya dapat anda kunjungi halaman ini.
Semoga dapat membantu dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Amin...
Inilah 5 Hal Yang Perlu Dipersiapkan Dalam Pembelajaran PAUD Taman Kanak-kanak RA. Seperti kita tahu bahwa aktivitas pembelajaran di tingkat PAUD Taman Kanak-kanak atau RA jauh berbeda dengan pembelajaran di jenjang pendidikan yang lebih tinggi alasannya ialah pendidikan anak usia dini merupakan awal berguru mereka yang masih berumur 3-6 tahun, dan tentunya memerlukan pendidik khusus yang pebuh kesabaran dan telaten dalam urusan anak-anak. Karena itu, dalam mempersiapkan pembelajaran pendidik PAUD dan pihak terkait perlu memperhatikan dan memahami 5 hal berikut ini: 1) Karakteristik cara berguru anak usia dini, 2) Prinsip-Prinsip Pembelajaran PAUD, 3) Pembelajaran Tematik Terpadu, 4) Pendekatan Saintifik di PAUD, dan 5) Sumber Belajar.
Nah dari 5 poin utama tadi tentu tidak cukup hanya sekedar mengerti dan memahami, tapi juga bisa melaksanakan dan menerapkan ketika pembelajaran anak usia dini. Mari kita tengok bersama rincian dari 5 poin diatas sebagai berikut:
A. Karakteristik cara berguru anak usia dini
1. Anak berguru secara bertahap. Kegiatan dilakukan secara sedikit demi sedikit mengikuti tahapan perkembangan berpikir akseptor didik.
2. Cara berpikir anak bersifat khas. Anak berpikir secara konkret, berpikir dari apa yang ia lakukan, dan menurut imajinasinya.
3. Anak-anak berguru dengan banyak sekali cara. Mereka menyerap informasi melalui pengalaman nyata yang mereka alami dengan objek, orang, dan aktivitas yang berada di sekitar dengan memanfaatkan alat indera: penciuman, perasa, pendengaran, penglihatan, peraba, bertanya, dan menalar.
4. Anak berguru satu sama lain dalam lingkungan sosial. Anak berguru dengan menggandakan sikap dan yang ditunjukkan, dan diekspresikan oleh orangtua, pendidik, dan lingkungan sosial (misalnya teman, pengasuh, tetangga, program TV yang ditonton.
5. Anak berguru melalui bermain. Bermain membantu menyebarkan banyak sekali potensi anak. Melalui bermain anak diajak bereksplorasi, menemukan, dan memanfaatkan objek-objek yang bersahabat dengan anak, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak.
B. Prinsip-Prinsip Pembelajaran PAUD
1. Belajar melalui bermain Anak di bawah usia 6 tahun berada pada masa bermain. Pemberian rangsangan pendidikan dengan cara yang sempurna melalui bermain, sanggup memperlihatkan pembelajaran yang bermakna pada anak.
2. Berorientasi pada perkembangan anak Pendidik harus bisa menyebarkan semua aspek perkembangan sesuai dengan tahapan usia anak.
3. Berorientasi pada kebutuhan anak Pendidik harus bisa memberi rangsangan pendidikan atau stimulasi sesuai dengan kebutuhan anak, termasuk bawah umur yang mempunyai kebutuhan khusus.
4. Berpusat pada anak Pendidik harus membuat suasana yang bisa mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi, dan kemandirian sesuai dengan karakteristik, minat, potensi, tingkat perkembangan, dan kebutuhan anak.
5. Pembelajaran aktif Pendidik harus bisa membuat suasana yang mendorong anak aktif mencari, menemukan, memilih pilihan, mengemukakan pendapat, dan melaksanakan serta mengalami sendiri.
6. Berorientasi pada pengembangan nilai-nilai karakter Pemberian rangsangan pendidikan diarahkan untuk menyebarkan nilai-nilai yang membentuk aksara yang positif pada anak. Pengembangan nilai-nilai aksara tidak dengan pembelajaran langsung, akan tetapi melalui pembelajaran untuk menyebarkan kompetensi pengetahuan dan keterampilan serta melalui penyesuaian dan keteladanan.
7. Berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup Pemberian rangsangan pendidikan diarahkan untuk menyebarkan kemandirian anak. Pengembangan kecakapan hidup dilakukan secara terpadu baik melalui pembelajaran untuk menyebarkan kompetensi pengetahuan dan keterampilan maupun melalui penyesuaian dan keteladanan.
8. Didukung oleh lingkungan yang kondusif Lingkungan pembelajaran diciptakan sedemikian rupa semoga menarik, menyenangkan, aman, dan nyaman bagi anak. Penataan ruang diatur semoga anak sanggup berinteraksi dengan pendidik, pengasuh, dan anak lain.
9. Berorientasi pada pembelajaran yang demokratis Pembelajaran yang demokratis sangat diharapkan untuk menyebarkan rasa saling menghargai antara anak dengan pendidik, dan antara anak dengan anak lain.
10. Pemanfaatan media belajar, sumber belajar, dan narasumber Penggunaan media belajar, sumber belajar, dan narasumber yang ada di lingkungan PAUD bertujuan semoga pembelajaran lebih kontekstual dan bermakna. Termasuk narasumber ialah orang-orang dengan profesi tertentu yang dilibatkan sesuai dengan tema, contohnya dokter, polisi, nelayan, dan petugas pemadam kebakaran.
C. Pembelajaran Tematik Terpadu
Salah satu pendekatan pembelajaran yang dipakai dalam Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini ialah pendekatan tematik terpadu. Dalam model pembelajaran tematik terpadu di PAUD, kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk satu tema, sub tema, atau sub-sub tema dirancang untuk mencapai secara bahu-membahu kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan dengan meliputi sebagian atau seluruh aspek pengembangan.
Pelaksanaan pembelajaran dilakukan melalui pembelajaran pribadi dan tidak pribadi yang terjadi secara terintegrasi dan tidak terpisah. Pembelajaran pribadi ialah proses pembelajaran melalui interaksi pribadi antara anak dengan pendidik yang dirancang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Pembelajaran pribadi berkenaan dengan pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang terkandung dalam Kompetensi Inti-3 (pengetahuan) dan Kompetensi Inti-4 (keterampilan).
Pembelajaran tidak pribadi ialah pembelajaran yang tidak dirancang secara khusus namun terjadi dalam proses pembelajaran langsung. Melalui proses pembelajaran pribadi untuk mencapai kompetensi pengetahuan dan keterampilan akan terjadi imbas ikutan pada pengembangan nilai dan sikap yang terkandung dalam Kompetensi Inti-1 (sikap spiritual) dan Kompetensi Inti-2 (sikap sosial).
Pembelajaran tematik terpadu dilaksanakan dalam tahapan aktivitas pembukaan, inti dan penutup.
D. Pendekatan Saintifik di PAUD
1. Apa itu pendekatan saintifik? Pendekatan saintifik ialah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa semoga akseptor didik secara aktif membangun kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan melalui tahapan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan.
2. Mengapa perlu memakai pendekatan saintifik?
Mendorong anak semoga mempunyai kemampuan berpikir kritis, analitis, dan mempunyai kemampuan memecahkan masalah.
Memberikan pengalaman berguru yang lebih bermakna kepada anak dengan mendorong anak melaksanakan aktivitas mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasi,dan mengomunikasikan.
Mendorong anak mencari tahu dari banyak sekali sumber melalui observasi dan bukan hanya diberitahu.
3. Bagaimana pelaksanaan pendekatan saintifik?
Mengamati; Mengamati dilakukan untuk mengetahui objek diantaranya dengan memakai indera ibarat melihat, membaca buku, mendengar, menghidu, merasa, dan meraba.
Menanya; Anak didorong untuk bertanya, baik perihal objek yang telah diamati maupun hal-hal lain yang ingin diketahui.
Mengumpulkan Informasi; Mengumpulkan informasi dilakukan melalui bermacam-macam cara, misalnya: dengan melakukan, mencoba, mendiskusikan, membaca buku, menanya, dan menyimpulkan hasil dari banyak sekali sumber.
Menalar; Menalar merupakan kemampuan meng-hubungkan informasi yang sudah dimiliki dengan informasi yang gres diperoleh sehingga mendapat pemahaman yang lebih baik perihal suatu hal
Mengomunikasikan; Mengomunikasikan merupakan aktivitas untuk memberikan hal-hal yang telah dipelajari dalam banyak sekali bentuk, contohnya melalui cerita, gerakan, dan dengan memperlihatkan hasil karya berupa gambar, banyak sekali bentuk dari adonan, boneka dari bubur kertas, kriya dari materi daur ulang, dan hasil anyaman.
E. Sumber Belajar
Untuk mendukung kegiatan pembelajaran perlu dipersiapkan sumber-sumber berguru yang sanggup memperkaya pengalaman anak antara lain buku-buku, teman, orang tua, audio visual, dan lingkungan sekitar.
Perkembangan dan pertumbuhan merupakan satu proses dalam kehidupan insan yang berlangsung secara terus-menerus semenjak masa konsepsi hingga selesai hayat. Perkembangan juga diartikan sebagai perubahan-perubahan yang dialami oleh seorang individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik itu menyangkut aspek fisik maupun psikis.
Sistematis, berarti perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau saling menghipnotis antara bagian-bagian organisme. Progresif, berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan mendalam (meluas) baik secara kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis). Berkesinambungan, berarti perubahan pada serpihan atau fungsi organisme itu berlangsung secara sedikit demi sedikit dan berurutan.
Perkembangan mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut:
Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti.
Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi.
Perkembangan mengikuti contoh atau arah tertentu.
Perkembangan terjadi pada daerah yang berlainan.
Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas.
Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan/fase perkembangan.
Fase perkembangan sanggup diartikan sebagai penahapan atau pembabakan rentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laris tertentu. Para hebat mengemukakan pendapat yang berbeda wacana pembabakan atau periodisasi perkembangan ini. Pendapat-pendapat tersebut secara garis besar sanggup digolongkan menjadi tiga, yaitu berdasarkan analisis biologis, didaktis, dan psikologis.
Karakteristik Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak
Perkembangan anak usia Taman Kanak-kanak yang terentang antara usia empat hingga dengan enam tahun merupakan serpihan dari perkembangan insan secara keseluruhan. Perkembangan pada usia ini meliputi perkembangan fisik dan motorik, kognitif, sosial emosional, serta bahasa.
Ketika anak mencapai tahapan usia Taman Kanak-kanak (3 hingga 6 tahun), terdapat ciri yang sangat berbeda dengan usia bayi. Perbedaannya terletak pada penampilan, proporsi tubuh, berat dan panjang badan, serta keterampilan yang mereka miliki.
Dilihat dari tahapan berdasarkan Piaget, anak usia Taman Kanak-kanak berada pada tahapan praoperasional, yaitu tahapan di mana anak belum menguasai operasi mental secara logis. Periode ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan memakai sesuatu untuk mewakili sesuatu yang lain dengan memakai simbol-simbol. Melalui kemampuan tersebut anak bisa berimajinasi atau berfantasi wacana banyak sekali hal.
Perkembangan emosi bekerjasama dengan seluruh aspek perkembangan anak. Pada tahap ini emosi anak usia prasekolah lebih rinci atau terdiferensiasi, anak cenderung mengekspresikan emosi dengan bebas dan terbuka. Sikap murka sering mereka perlihatkan dan sering berebut perhatian guru.
Perkembangan sosial ialah perkembangan sikap anak dalam beradaptasi dengan aturan-aturan masyarakat dimana anak itu berada. Perkembangan sosial anak merupakan hasil belajar, bukan hanya sekedar hasil dari kematangan. Perkembangan sosial diperoleh anak melalui kematangan dan kesempatan mencar ilmu dari banyak sekali respons terhadap dirinya. Bagi anak prasekolah, kegiatan bermain mengakibatkan fungsi sosial anak semakin berkembang.
Anak prasekolah biasanya telah bisa membuatkan keterampilan bicara melalui percakapan yang sanggup memikat orang lain. Mereka sanggup memakai bahasa dengan banyak sekali cara menyerupai bertanya, berdialog, dan menyanyi. Sejak usia dua tahun anak sangat berminat untuk menyebut nama benda. Minat tersebut terus berlangsung sehingga sanggup menambah perbendaharaan kata.
Prinsip-prinsip Perkembangan Anak
Penyelenggaraan pendidikan Taman Kanak-kanak menuntut pendidik yang mempunyai kemampuan profesional, sosial dan pribadi yang baik. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh pendidik atau guru Taman Kanak-kanak ialah memahami perkembangan anak. Pemahaman wacana karakteristik perkembangan anak menunjukkan bantuan terhadap pendidik untuk merancang kegiatan, menata lingkungan belajar, mengimplementasikan pembelajaran serta mengevaluasi perkembangan dan mencar ilmu anak.
Prinsip-prinsip perkembangan anak meliputi: (1) anak berkembang secara holistik, (2) perkembangan terjadi dalam urutan yang teratur, (3) perkembangan anak berlangsung pada tingkat yang bermacam-macam di dalam dan di antara anak, (4) perkembangan gres didasarkan pada perkembangan sebelumnya, (5) perkembangan mempunyai imbas yang bersifat kumulatif.
Prinsip-prinsip perkembangan anak tersebut menunjukkan implikasi bagi pendidik dalam menentukan tujuan, menentukan materi ajar, menentukan strategi, menentukan dan memakai media, serta mengevaluasi perkembangan dan mendukung mencar ilmu anak secara optimal.
Dasar Pemikiran dan Pengertian Pembelajaran yang Berorientasi Perkembangan. Ada beberapa hal yang mendasari munculnya praktik pembelajaran yang berorientasi perkembangan, antara lain meningkatnya praktik pembelajaran yang bersifat formal di lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini, kuatnya tuntutan dan tekanan orang renta dan masyarakat terhadap pengajaran yang lebih bersifat akademik, kesalahpahaman masyarakat wacana konsep pendidikan anak usia dini. Pembelajaran yang berorientasi perkembangan mengacu pada tiga hal penting, yaitu (1) berorientasi pada usia, (2) berorientasi pada anak secara individual, dan (3) berorientasi pada konteks sosial budaya anak.
Praktek pembelajaran yang berorientasi perkembangan menekankan pada hal-hal sebagai berikut:
anak secara holistik
program pendidikan yang bersifat individual,
pentingnya kegiatan yang diprakarsai anak,
leksibel, lingkungan kelas menstimulasi anak,
pentingnya bermain sebagai wahana belajar,
kurikulum terpadu,
belajar melalui bekerja,
memberikan pilihan kepada anak wacana apa dan bagaimana caranya belajar,
penilaian bersifat kontinu, dan
bermitra dengan orang renta untuk mendukung perkembangan dan mencar ilmu anak.
Pembelajaran yang Berorientasi Perkembangan Untuk Anak Usia Taman Kanak-kanak Prinisp-prinsip pembelajaran yang berorientasi perkembangan sanggup diidentifikasi dari beberapa dimensi, sebagai berikut.
Menciptakan iklim yang positif dan aman untuk belajar.
Membantu keeratan kelompok dan memenuhi kebutuhan individu.
Lingkungan dan aktivitas hendaknya memberi kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi aktif, mengambil inisiatif, melaksanakan eksplorasi terhadap objek dan lingkungannya.
Pengalaman mencar ilmu hendaknya dirancang secara nyata dan memberi kesempatan kepada anak untuk menentukan kegiatannya sendiri.
Mendorong bawah umur untuk membuatkan keterampilan berkomunikasi dan berbahasa secara menyeluruh yang meliputi kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis dini.
Strategi pembelajaran dirancang biar anak sanggup berinteraksi dengan anak lainnya secara individual dan dalam kelompok kecil.
Motivasi dan bimbingan diberikan biar anak mengenal lingkungannya, membuatkan keterampilan sosial, pengendalian dan disiplin diri.
Kurikulum diorganisasikan secara terpadu untuk membuatkan seluruh aspek perkembangan anak yang meliputi aspek fisik motorik, sosial emosi, kognitif, bahasa, dan seni.
Penilaian terhadap anak dilakukan secara kontinu, melalui observasi.
Mencatat dan mendokumentasikan hal-hal yang telah dilakukan anak dan cara melaksanakan kegiatan tersebut.
Pengertian Manfaat dan Tujuan Media Pembelajaran Siswa PAUD Taman Kanak-kanak RA. Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap orang untuk menunjang kehidupan didunia dan alam abadi sebagaimana tertuang dalam al-Quran dan Hadits. Sehingga pendidikan menjadi hal utama untuk membentuk aksara insan semenjak usia dini. Dengan bergulirnya waktu, maka dunia pendidikan dituntut harus lebih kreatif, inovatif dan menyenangkan.
Maka pelaku pendidikan harus bisa memakai aneka macam cara, media dan metode pembelajaran pendidikan anak usia dini (PAUD) untuk mencapainya. Karena itu, sedikit mengulas wacana prinsip, pengertian, jenis-jenis, ciri-ciri, tujuan, dan manfaat penggunaan media pembelajaran untuk jenjang PAUD Taman Kanak-kanak dan RA.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL Bagian Ketujuh Pendidikan Anak Usia Dini Pasal 28
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan anak usia dini sanggup diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Permendiknas No.58 tahun 2009 wacana Standar Pendidikan Anak Usia Dini
Gagne (1970) mengartikan aneka macam jenis komponen dalam lingkungan siswa yang sanggup merangsang siswa untuk belajar.(1970) mengartikan media ialah sebagai alat yang dipergunakan untuk memperlihatkan perangsang bagi siswa biar proses mencar ilmu terjadi.
Media / Alat Peraga ialah Segala sesuatu yang sanggup dipakai sebagai sarana atau peralatan untuk pembelajaran yang mengandung nilai edukatif (Pendidikan) dan sanggup membuatkan seluruh kemampuan anak
Difungsikan untuk membuatkan aneka macam aspek perkembangan anak RA
Dapat dipakai aneka macam cara, bentuk, dan untuk bermacam tujuan aspek pengembangan atau bermanfaat multiguna
Aman atau tidak berbahaya bagi anak
Dirancang untuk mendorong aktifitas dan kreatifitas anak
Bersifat Konstruktif atau ada sesuatu yang dihasilkan
Mengandung nilai pendidikan
Tujuan Media / Alat Peraga
Memperjelas materi yang diberikan
Memberikan motivasi dan merancang anak untuk bereksplorasi dalam mengembangkan
berbagai aspek perkembangan
Memberikan kesenangan pada anak dalam bermain
Fungsi Media / Alat Peraga
Menciptakan situasi bermain (belajar) yang menyenagkan bagi anak
Memudahkan obyek /materi
Menumbuhkan rasa ingin tahu
Memberikan stimulus dalam pembentukan sikap dan pengembangan kemampuan dasar
Memberikan kesempatan anak bereksplorasi, berkomunikasi dengan teman sebaya
Alat penilaian biar segala kegiatan mencar ilmu mengajar yang telah dilaksanaka sanggup dilakukan penilaian kemampuan siswa dalam merespon pembelajaran dengan media.
Syarat Pembuatan media / alat Peraga
Syarat Edukatif bahwa pembuatan media harus diadaptasi dengan kegiatan pendidikan yang berlaku dan diadaptasi dengan Didaktik Metodik (Membantu keberhasilan kegiatan pendidikan, mendorong aktifitas dan kreatifitas anak yang diadaptasi dengan kemampuan anak)
Mengapa memakai media
Mengajar lebih gampang dan menyenangkan”
untuk mendukung pembelajaran di kelas
mengajar lebih gampang dan menyenangkan
Siswa lebih gampang memahami materi pelajaran
Tercapai tujuan pembelajaran sebagai alat bantu untuk memudahkan guru dalam proses pembelajaran di kelas
Penggunaan Media
Digunakan oleh Guru dalam pembelajaran secara klasikal (classroom learning)
Bertujuan menghadirkan pengalaman visual sehingga materi sanggup dipahami secara kongkrit
Dilengkapi dengan petunjuk pemanfaatan dan petunjuk teknis kegiatan serta materi atau media penyerta
Strategi Pemanfaatan
terintegrasi dalam pembelajaran di kelas
Guru menciptakan skenario pembelajaran yang akan diajarkan kepada penerima didik (membuat RPP)
Guru menyiapkan materi atau media penyerta Guru menyiapkan komputer (notebook) yang tersambung dengan LCD Projector di dalam kelas (jika diperlukan)
Guru memulai pembelajaran di kelas
Ketika ada klarifikasi materi yang membutuhkan media visual, Guru membuka file yang berisi media (baik gambar, animasi/simulasi atau video, dll)
Guru memberi klarifikasi detail secara verbal melengkapi klarifikasi media visual yang ditampilkan
Diskusi
Menjawab pertanyaan lisan
Mengerjakan lembar kerja anak dan games
Menyimpulkan materi
Memberikan penugasan
Demikian saja ulasan wacana Pengertian Manfaat dan Tujuan Media Pembelajaran Siswa PAUD Taman Kanak-kanak RA. Jika masih kurang, silahkan baca beberapa artikel blog ini. Semoga bermanfaat...
KTSP PAUD ialah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di satuan pendidikan anak usia dini yang sesuai dengan kondisi daerah, satuan PAUD, dan kebutuhan anak. Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini disusun mengacu pada Standar Nasional PAUD serta Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum PAUD.
Dokumen I berisi sekurang-kurangnya visi, misi, tujuan satuan pendidikan, muatan pembelajaran, pengaturan beban belajar, dan kalender pendidikan. Jabaran setiap komponen pada dokumen I ialah sebagai berikut:
a. Visi Satuan Pendidikan
Visi ialah harapan bersama pada masa mendatang dari warga satuan pendidikan anak usia dini, yang dirumuskan dan ditetapkan oleh setiap forum menurut masukan dari seluruh warga forum pendidikan anak usia dini. Visi tersebut bisa menawarkan inspirasi, motivasi, dan kekuatan pada warga satuan pendidikan dan segenap pihak yang berkepentingan. Visi sanggup ditinjau dan dirumuskan kembali secara terpola sesuai dengan perkembangan dan tantangan di masyarakat.
b. Misi Satuan Pendidikan
Misi ialah sesuatu yang harus dilaksanakan sebagai pembagian terstruktur mengenai visi yang telah ditetapkan dalam kurun waktu tertentu untuk menjadi tumpuan bagi penyusunan aktivitas serta menawarkan keluwesan dan ruang gerak pengembangan kegiatan satuan pendidikan yang terlibat, dengan menurut masukan dari seluruh warga satuan pendidikan anak usia dini. Misi sanggup ditinjau dan dirumuskan kembali secara terpola sesuai dengan perkembangan dan tantangan di masyarakat.
d. Muatan Pembelajaran
Muatan pembelajaran ialah cakupan materi yang ada pada kompetensi dasar sebagai materi yang akan dijadikan kegiatan-kegiatan untuk mencapai kompetensi perilaku spiritual, perilaku sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Materi-materi tersebut seharusnya dikuasai anak sesuai dengan tahapan usianya yang diberikan melalui stimulasi pendidikan secara terintegrasi dengan memakai tema-tema yang sesuai dengan kondisi forum PAUD/satuan pendidikan dan anak.
e. Pengaturan Lama Belajar
Lama berguru merupakan waktu yang dipakai untuk memberi pengalaman berguru kepada anak dalam satu minggu, satu semester, dan satu tahun. Lama berguru dilaksanakan melalui pembelajaran tatap muka dengan durasi paling sedikit 900 menit per minggu. Satuan PAUD untuk kelompok usia 4-6 tahun yang tidak sanggup melaksanakan pembelajaran 900 menit per ahad wajib melaksanakan pembelajaran 540 menit dan ditambah 360 menit pengasuhan terprogram.
f. Kalender Pendidikan
Kalender pendidikan ialah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran anak selama satu tahun fatwa yang meliputi permulaan tahun ajaran, ahad efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur. Kalender Pendidikan juga berisi aktivitas kegiatan tahunan yang meliputi kegiatan-kegiatan perayaan hari besar nasional, kegiatan-kegiatan puncak tema, kegiatan-kegiatan forum (misal: rekreasi dan pentas seni).
Dokumen II berisi Perencanaan Program Semester (Prosem), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM), dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Untuk merencanakan pembelajaran, satuan PAUD menyusun aktivitas yang meliputi:
1) Program Semester
Prosem berisi daftar tema satu semester dan alokasi waktu setiap tema. Penyusunan Prosem dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
membuat daftar tema satu semester
menentukan alokasi waktu untuk setiap tema
menentukan KD pada setiap tema
memilih, menata, dan mengurutkan tema
menjabarkan tema ke dalam sub tema dan sanggup dikembangkan lebih rinci lagi menjadi sub-sub tema untuk setiap semester; Dalam menyusun Prosem, satuan PAUD diberi keleluasaan dalam menentukan format.
2) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan
RPPM disusun sebagai teladan pembelajaran selama satu minggu. RPPM sanggup berbentuk jaringan tema atau format lain yang dikembangkan oleh satuan PAUD yang berisi projek-projek yang akan dikembangkan menjadi kegiatan pembelajaran. Pada final satu atau beberapa tema sanggup dilaksanakan kegiatan puncak tema untuk memperlihatkan hasil belajar. Puncak tema sanggup berupa kegiatan antara lain menciptakan kue/makanan, makan bersama, festival hasil karya, pertunjukan, panen tanaman, dan kunjungan.
3) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian
RPPH disusun sebagai teladan pembelajaran harian. Komponen RPPH meliputi antara lain: tema/sub tema/sub-sub tema, kelompok usia, alokasi waktu, kegiatan berguru (kegiatan pembukaan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup), indikator pencapaian perkembangan, evaluasi perkembangan anak, serta media dan sumber belajar.
Prinsip Penyusunan Kurikulum
Penyusunan Kurikulum PAUD dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.
Kurikulum dikembangkan prinsip berpusat pada anak yaitu dengan mempertimbangkan potensi, minat, bakat, perkembangan, dan kebutuhan semua anak, termasuk anak yang memiliki kebutuhan khusus.
Kurikulum dikembangkan secara kontekstual yaitu dengan mempertimbangkan karakteristik daerah, kondisi sekolah, dan kebutuhan anak.
Substansi kurikulum meliputi semua dimensi kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan) dan meliputi semua aktivitas pengembangan yang direncanakan dan disajikan secara terpadu dan berkesinambungan sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Kurikulum disusun supaya semua aktivitas pengembangan menjadi dasar pembentukan kepribadian anak secara utuh dalam pembentukan perilaku spiritual dan perilaku sosial anak.
Kurikulum disusun dengan memperhatikan tingkat perkembangan anak alasannya ialah anak akan berguru dengan baik jikalau kebutuhan fisik terpenuhi serta merasa tenteram, kondusif dan nyaman.
Kurikulum disusun dengan mempertimbangkan cara anak berguru dari sederhana ke rumit, nyata ke abstrak, dari gerakan ke verbal, dan dari keakuan ke rasa sosial.
Kurikulum disusun dengan mempertimbangkan keterpaduan aspek dalam pengembangan anak usia dini holistik integratif (PAUD-HI) yaitu pendidikan, kesehatan dan gizi, pengasuhan, dan sumbangan anak.
Kurikulum disusun dengan memakai pendekatan berguru melalui bermain yang dirancang supaya tercipta suasana yang menyenangkan, fungsional, dan efektif dalam proses pembelajaran.
Kurikulum dikembangkan untuk menawarkan pengalaman berguru pada anak dengan memperhatikan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang berkembang secara dinamis.
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya. Kurikulum perlu memuat keragaman potensi kebutuhan, tantangan, dan karakteristik lingkungan kawasan setempat untuk menghasilkan anak yang mengenal, mengapresiasi dan menyayangi budaya daerah.
Prosedur dan Mekanisme Pengembangan Kurikulum
Prosedur dan prosedur pengembangan kurikulum operasional PAUD meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
Satuan PAUD membentuk tim/kelompok kerja pengembang kurikulum.
Tim/kelompok kerja pengembang melaksanakan analisis konteks dengan mempelajari dan mencermati pedoman-pedoman yang ada dalam Peraturan Menteri ihwal Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini ini, menganalisis kondisi, peluang, dan tantangan yang ada di lembaga/satuan PAUD yang bekerjasama dengan anak, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, biaya dan program-program yang akan dilakukan.
Penyusunan draf dokumen kurikulum PAUD sesuai dengan komponen yang telah ditetapkan.
Tim/kelompok kerja melaksanakan review, revisi, dan penetapan.
Dokumen disahkan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan kewenangannya, seperti: dinas pendidikan setempat, kantor kementerian agama setempat, dan/atau ketua yayasan/pengelola.
Pelaksanaan KTSP merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga satuan PAUD.
Perhatikan Karakteristik Kurikulum 2013 PAUD. Kurikulum PAUD memakai pembelajaran tematik dengan pendekatan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan dalam pemberian rangsangan pendidikan. Kurikulum sebagai aktivitas pengembangan bagi anak bisa mengembangkan semua potensi anak semoga menjadi anak yang kompeten.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pembelajaran yang menyenangkan di PAUD. Guru perlu memperhatikan cara anak usia dini berguru dan prinsip-prinsip pembelajaran PAUD. Anak usia dini berguru secara sedikit demi sedikit dengan cara berpikir yang khas. Ia bisa berguru dengan banyak sekali cara, dan ia berguru dari proses interaksi dengan lingkungannya. Pada prinsipnya anak berguru melalui bermain. Hal ini sesuai dengan perkembangan anak, yang menyebabkan bermain sebagai kebutuhan anak.
Bermain menciptakan anak menjadi pembelajar aktif, dan memungkinkan anak menjadi makin kreatif. Selain itu, dalam kegiatan bermain yang didukung lingkungan yang kondusif, anak tolong-menolong juga berguru mengembangkan nilai-nilai karakter. Saat bermain, anak berguru berbagi, peduli, kerjasama, bertanggungjawab, dll.
Penanaman nilai-nilai huruf untuk anak usia dini akan terjadi dengan sendirinya pada ketika anak praktek eksklusif dan melihat model/teladan dari orang lain. Di sinilah tunjangan dari lingkungan yang aman dibutuhkan dalam pembentukan huruf anak.
Dengan memanfaatkan media dan sumber berguru yang gampang ditemukan anak, serta tunjangan dari fasilitator (dalam hal ini guru), maka anak sanggup berlajar secara optimal. Dukungan yang sanggup diberikan guru berupa:
Guru memberi mereka kesempatan untuk mencoba/mengeksplorasi dan memakai banyak sekali obyek/bahan dengan cara yang beragam.
Guru memberi tunjangan dengan pertanyaan (dan atau bimbingan) yang tepat.
Guru menghargai setiap perjuangan dan hasil karya anak dengan tidak membandingkan dengan anak lainnya.
Pendekatan pembelajaran yang menyenangkan ialah proses pembelajaran yang dirancang semoga anak secara aktif sanggup mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan, baik terkait diri sendiri, lingkungan, atau kejadian. Penerapan pendekatan pembelajaran yang baik akan menumbuhkan kemampuan berpikir anak. Salah satu pendekatan pembelajaran tersebut ialah pendekatan saintifik.
Bagaimana Mengelola Pembelajaran di PAUD
Perhatikan Karakteristik Kurikulum 2013 PAUD
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pembelajaran yang menyenangkan di PAUD
Apakah yang Dimaksud Pendekatan Saintifik
Mengapa Perlu Pendekatan Saintifik
Cara Belajar Anak Usia Dini
Prinsip Pembelajaran PAUD
Kapan Pendekatan Saintifi k sanggup Dialami Anak
Seperti Apa Penerapan Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik
Bagaimana Proses Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran di PAUD
Bagaimana masih kurang? silahkan unduh file pdf dari wacana Pedoman Pengelolaan Pembelajaran PAUD Kurikulum 2013 pada link dibawah ini:
Panduan Pendidik PAUD Taman Kanak-kanak RA Dalam Pembelajaran Kurikulum 2013 Terbaru. Anak usia dini merupakan individu yang mempunyai karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya. Pada ketika ini sedang mengalami perkembangan otak yang sangat pesat dan dikatakan dengan masa emas (golden ages)sampai 80 %. Masa ini tidak akan terulang lagi. Oleh itu, sebab dukungan rangsangan pendidikan pada usia dini yang sempurna sangat diharapkan untuk memastikan bahwa setiap anak mencapai perkembangan yang optimal sehingga mereka mempunyai landasan yang berpengaruh untuk menempuh pendidikan selanjutnya.
Pendidik PAUD sebagai ujung tombak yang bertanggungjawab dalam pembelajaran diharapkan bisa merancang, melakukan dan mengevaluasi kegiatan yang melibatkan seluruh aspek perkembangan sehingga tercapai kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal.
Buku Panduan Ini Digunakan Untuk Memberikan Acuan Bagi Pendidik PAUD dan Pihak Terkait:
Memberikan wawasan bagi pendidik dan atau pengasuh PAUD wacana kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini.
Memberi pola cara menyebarkan kegiatan pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini.
Memberi pola dan klarifikasi yang memandu pendidik dan atau pengasuh untuk sanggup melakukan kegiatan pembelajaran di PAUD khususnya usia 5-6 tahun.
Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini merupakan kurikulum yang berbasis kompetensi. Proses pembelajaran yang dilakukan diarahkan untuk tecapainya kompetensi perilaku spiritual, perilaku sosial, pengetahuan dan keterampilan yang melibatkan 6 aspek perkembangan secara terpadu. Kompetensi dibedakan menjadi Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar sebagai berikut:
A. Kompetensi Inti
Kompetensi Inti Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini merupakan citra pencapaian Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak pada simpulan layanan PAUD usia 6 (enam) tahun.
Kompetensi Inti mencakup:
Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti perilaku spiritual.
Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti perilaku sosial.
Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan.
Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.
B. Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar merupakan tingkat kemampuan dalam konteks muatan pembelajaran, tema pembelajaran, dan pengalaman berguru yang mengacu pada Kompetensi Inti. Rumusan Kompetensi Dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik dan kemampuan awal anak serta tujuan setiap aktivitas pengembangan. Kompetensi Dasar dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan pengelompokkan kompetensi inti yaitu:
Kelompok 1: kelompok Kompetensi Dasar perilaku spiritual dalam rangka menjabarkan KI-1.
Kelompok 2: kelompok Kompetensi Dasar perilaku sosial dalam rangka menjabarkan KI-2.
Kelompok 3: kelompok Kompetensi Dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI-3.
Kelompok 4: kelompok Kompetensi Dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan KI-4
C. Yang harus diperhatikan dalam pembelajaran PAUD
Karakteristik cara berguru anak usia
Prinsip-prinsip pembelajaran PAUD
Pendekatan Tematik Terpadu
Pendekatan Saintifik di PAUD
Sumber Belajar
D. Perencanaan pembelajaran PAUD
Alur Perencanaan Pembelajaran
Tahapan Penyusunan Program Pembelajaran PAUD
E. Pelaksanaan pembelajaran
Tahapan Pelaksanaan Pembelajaran
Metode Pembelajaran
Model Pembelajaran
Puncak Tema
F. Penilaian
Pengertian Penilaian
Tujuan Penilaian
Teknik-teknik Penilaian
Prosedur Penilaian
Pola Penulisan Laporan Pencapaian Perkembangan Anak (LPPA)
Perkembangan sosial-emosional berdasarkan para ahli, bertujuan untuk mengetahui diri sendiri dan bekerjasama dengan orang lain yaitu sahabat sebaya dan orang dewasa, bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain, dan berperilaku sesuai dengan sikap prososial. Perkembangan sosial, sebagaimana dikatakan Muhibbin (1999:35), merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya.
Adapun Hurlock menyampaikan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Untuk menjadi individu yang bisa bermasyarakat dibutuhkan tiga proses sosialisasi. Ketiga proses tersebut nampak terpisah, tetapi bahu-membahu saling berhubungan:
belajar untuk bertingkah laris dengan cara yang sanggup diterima masyarakat
belajar memainkan tugas sosial yang ada di masyarakat
mengembangkan sikap atau tingkah laris sosial terhadap individu lain dan kegiatan sosial yang ada di masyarakat (Hurlock:250).
Fase-fase perkembangan sosial emosional anak usia dini
1. Fase Pembentukan Dasar Kepercayaan vs Tidak Percaya (0-12-18 Bulan)
Dalam fase ini anak mengalami krisis pertama dalam kehidupannya.Krisis ini menyangkut krisis kepercayaan terhadap lingkungan. Perawatan yang diberikan pada bayi merupakan prasyarat untuk timbulnya percaya dalam diri bayi tewrhadap lingkungannya.
Untuk membangun dasar kepercayaan tersebut maka pemenuhan kebutuhan bayi perlu dilakukan secara teratur. Misalnya : kebutuhab terhadap makanan, kebersihan (mandi, ganti, dan sebagainya. Di samping itu dibutuhkan juga cara-cara penanganan dalam merawat bayi. Perawatan ini haruslah menjadikan rasa aman dan rasa terlindungi pada bayi. Hal tersebut merupakan faktor penentu untuk timbulnya rasa percaya dalam diri bayi. Apabila bayi tidak memperoleh perawatan yang demikian maka yang tumbuh dalam diri bayi yakni rasa tidak percaya atau curiga.
2. Fase Autonomi vs Malu dan ragu-ragu (18 bulan -3 tahun)
Bermodalkan rasa percaya dan sejalan dengan perkembangan baik fisik, kognitif dan bahasa, anak mulai mengeksplorasi lingkungannya. Ia bergerak kesana-kemari. Pada masa ini anak mencicipi kebebasannya. Seiring dengan hal itu berkembang pula krisis tahap ke dua dalam diri anak. Rasa aib ini merupakan awal dari kepekaan anak terhadap sesuatu yang salah dan yang benar. Oleh alasannya yakni itu tugas orang bau tanah sangat penting dalam mengarahkan perkembangan psikososial anak berkembang dengan baik.
Kontrol yang terlalu ketat menimbulkan autonomi anak tidak berkembang. Sebaliknya kontrol yang terlalu longgar menimbulkan autonomi anak kurang peka terhadap mana yang salah dan mana yang benar.
3. Fase inisiatif vs Merasa Bersalah (3-6 tahun)
Pada tahap ini krisis yang terjadi dalam diri anak yakni antara inisiatif dan melaksanakan inisiatif tersebut, dan rasa bersalah untuk melaksanakan apa yang ingin dilakukan oleh anak. Oleh alasannya yakni itu anak perlu berguru mengendalikan perasaan ini. Salah satu cara yang sanggup dilakukan yakni dengan jalan menanamkan rasa tanggung jawab dalam diri anak. Di samping itu anak masih perlu mencicipi kebebasannya. Apabila perkembangan rasa besalah melebihi perkembangan inisiatif anak maka anak akan menjadi anak yang tidak sanggup mengespresikan keperibadiannya lantaran takut diangap salah. Anakakan diliputi rasa ragu-ragu.
Bertitik tolak dari pendapat para hebat tersebut di atas maka sanggup diketahui bahwa perkembangan psikososial merupakan suatu bentuk perkembangan yang bersifat kumulatif. Hal ini berarti bahwa perkembangan psikososial pada tahap awal akan mensugesti perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya. Oleh alasannya yakni itu apabila terjadi kendala dalam perkembangan dalam perkebangan psikososial pada tahap awal maka keadaan ini akan mensugesti perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya.
Perkembangan sosialisasi pada anak ditandai dengan kemampuan anak untuk mengikuti keadaan dengan lingkungan, menjalin pertemanan yang melibatkan emosi, pikiran, dan perilakunya. Perkembangan sosialisasi anak yakni proses dimana anak mengembangkan keterampilan interpersonalnya, berguru menjalin persahabatan, meningkatkan pemahamannya perihal orang di luar dirinya, dan juga berguru kebijaksanaan sehat susila dan perilaku.
Perkembangan sosial emosional melibatkan pemahaman yang mendalam perihal diri sendiri dan orang lain. Feeney (et.al) menyatakan bahwa perkembangan sosial emosional mencakup; kompetensi sosial (kemampuan dalam menjalin kekerabatan dalam kelompok sosial), kemampuan sosial (perilaku yang dipakai dalam situasi sosial), kognisi sosial (pemahaman terhadap pemahaman, tujuan, dan sikap diri sendiri dan orang lain), sikap sosial (kesediaan untuk berbagi, membantu, bekerjasama, merasa nyaman dan aman, dan mendukung orang lain), serta penguasaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas (perkembangan dalam menentukan standar baik dan buruk, kemampuan untuk mempertimbangkan kebutuhan dan keselamatan orang lain).
Sosialisasi yakni suatu proses mental dan tingkah laris yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri dengan keinginan yang berasal dari dalam diri. Sosialisasi merupakan proses dimana anak berguru untuk berperilaku sesuai dengan keinginan budaya dimana anak dibesarkan. Sebagaimana Manning menyatakan "socialization is the process by which children learn to be have in acceptable manner, as defined by culture of which the family is apart". Sementara itu Drever mengemukakan pengertian sosialisasi sebagai suatu proses dimana individu mengikuti keadaan dengan lingkungan sosial dan menjadi dikenali, dan bekerjasama dengan anggota kelompok tersebut.
Ada beberapa faktor yang mensugesti kemampuan anak dalam bersosialisasi, yaitu: (1) lingkungan keluarga, (2) lingkungan sekolah, (3) lingkungan kelompok masyarakat, (4) faktor dari dalam diri anak.
Proses sosialisasi membutuhkan 3 (tiga) keterampilan khusus, yiatu: (1) proses imitasi, (2) proses identifikasi, dan (3) proses internalisasi. Proses imitasi yakni proses dimana anak berguru menggandakan sikap yang sanggup ditterima secara sosial. Anak melhat secara eksklusif sikap orang lain yang dijadikan contoh/model. Proses identifikasi yakni terjadinya efek sosial pada anak, dimana anak ingin menjadi menyerupai orang lain yang dicontoh. Proses internalisasi yakni proses penanaman serta perembesan nilai-nilai. Dalam proses ini dibutuhkan pemahaman anak untuk membedakan nilai-nilai sosial yang baik dan buruk. Proses sosialisai juga diawali dengan adanya proses pengamatan terhadap sikap orang lain.
Bandura mengemukakan tahapan atau fase yang dilalui individu dalam mengamati sikap tertentu, yaitu; (1) memperhatikan (attention), (2) menyimpan (retention), (3) mereproduksi (reproduction), dan (4) motivasi (motivation).
Menurut Erikson, masa kanak-kanak merupakan citra awal individu sebagai seorang manusia, dimana prola sikap dan sikap yang diperoleh anak, akan menjadi peletak dasar bagi perkembangan anak selanjutnya. Pada anak usia 4-5 tahun sangat bahagia menggandakan pembicaraan maupun tindakan orang lain. Menurutnya, tahapan perkembangan psikososial pada anak pra sekolah yakni tahapan inisiatif atau prakarsa versus rasa bersalah. Pada tahap ini anak terlihat aktif dan mulai bermain serta menjalin komunikasi dengan belum dewasa lain. Anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan memperlihatkan perhatian terhadap perbedaan jenis kelamin.
Ciri-ciri perkembangan sosial berdasarkan Steinberg (1995), Hughes (1995) dan Piaget (1996) adalah: (1) menentukan sahabat yang sejenis, (2) cenderung lebih percaya pada sahabat sebaya, (3) agresivitas lebih meningkat, (4) bahagia bergabung dalam kelompok, (5) memahami keberadaan bersama kelompok, (6) berpartisipasi dengan pekerjaan orang dewasa, (7) berguru membina persahabatan dengan orang lain, dan (8) memperlihatkan rasa setia kawan.
Dalam kaitannya dengan perkembangan emosi pada anak usia dini, terdapat 3 (tiga) pola dasar emosi yang timbul pada anak, yaitu takut, marah, dan cinta (fear, anger, and love). Emosi sanggup berubah bukan hanya disebabkan lantaran adanya perubahan perasaan, tetapi juga lantaran kondisi lingkungan yang dialami anak. Rasa takut sanggup timbul lantaran adanya peristiwa yang mendadak atau tidak terduga, dimana anak perlu menyesuaikan diri dengan situasi tersebut. Rasa murka biasa muncul pada belum dewasa untuk menarik perhatian orang lain. Rasa bahagia merupakan bentuk emosi yang memperlihatkan kegembiraan atau keriangan yang sanggup disertai dengan ekspresi tawa, senyum sebagai tanda relaksasi tubuh.
Karakteristik perkembangan emosi pada anak usia dini
Emosi anak berlangsung singkat
Emosi anak bersifat intense
Emosi anak bersifat temporer
Emosi anak muncul cukup sering
Respon emosi anak bermacam-macam
Emosi anak sanggup dideteksi dengan melihat tanda-tanda perilakunya
Kekuatan emosi anak sanggup berubah
Ekspresi emosi anak sanggup berubah
Menurut Piaget, anak berada pada tahap perkembangan kognitif pra-operasional (2-7 tahun) ditendai dengan egosentrisme yang kuat, gagasan imajinatif, bertindak berdasarkan pemikiran intuitif atau tidak berdasarkan pemikiran yang rasional. Menurut Kroh, bahwa emosi anak usia 4-5 tahun berada pada masa kegoncangan atau biasa disebut sebagai trotz period. Pada masa ini muncul tanda-tanda kenakalan yang umum terjadi pada anak, menyerupai menentang pada orang tua, memakai kata-kata kasar, dengan sengaja melanggar hal yang tidak boleh dan sebagainya.
Karakteristik perkembangan emosi anak usia 5-6 tahun
Memiliki keinginan untuk menyenangkan hati teman
Sudah lebih bisa mengikuti aturan
Sudah lebih berdikari di satu sisi, namun juga memperlihatkan ketergantungan di sisi lain
Sudah lebih bisa membaca situasi
Mulai bisa menahan tangis dan kekecewaan
Mulai sabar menunggu giliran
Menunjukkan kasih sayang terhadap saudara maupun teman
Menaruh minat pada kegiatan orang dewasa
Faktor-faktor yang mensugesti perkembangan emosi anak
Kematangan
Belajar: penyesuaian dan contoh
Inteligensi
Jenis kelamin
Status ekonomi
Kondisi fisik
Posisi anak dalam keluarga
Untuk mengembangkan kemampuan sosial dan emosi pada anak, maka pendidik mempunyai tugas yang sangat penting. Di antara tugas pendidik tersebut adalah:
a. Memberikan aneka macam stimulasi pada anak
Pendidik perlu memperlihatkan stimulasi edukatif pada anak supaya kemampuan sosial emosi anak berkembang sesuai tahapan usianya. Kegiatan berguru melalui permainan sanggup dioptimalkan dengan cara menstimulasi anak misalnya; mengajak anak terlibat dalam permainan kelompok kecil, melatih anak bermain bergiliran, mengajak anak menceritakan pengalamannya di depan kelas, melatih kesadaran anak untuk menyebarkan dalam kegiatan kemanusiaan bila terjadi bencana, dan sebagainya.
b. Menciptakan lingkungan yang kondusif
Pendidik perlu mengelola kelas yang memungkinkan anak mengembangkan kemampuan sosial emosinya terutama kesadaran anak untuk bertanggungjawab terhadap benda dan tidakan yang dilakukannya. Lingkungan ini berupa fisik dan psikis. Lingkungan fisik menekankan pada ruang kelas sebagai daerah anak berlatih kecakapan sosial emosinya. Sedangkan lingkungan psikis lebih ditekankan pada suasana lingkungan penuh cinta kasih sehingga merasa nyaman dan aman di kelas.
c. Memberikan contoh
Pendidik yakni pola konkrit bagi anak. Segala tindakan dan tutur kata pendidik anak diikuti oleh anak. Oleh lantaran itu pendidik seharusnya sanggup menjaga sikap sesuai dengan norma sosial dan nilai agama, menyerupai menghargai pendapat anak, bersedia menyimak keluh kesah anak, membangun sikap positif anak, berempati terhadap problem yang dihadapi anak, dan sebagainya.
d. Memberikan kebanggaan atas perjuangan yang dilakukan anak
Pendidik sebaiknya tidak sungkan memperlihatkan kebanggaan terhadap kecakapan sosial yang sudah dilakukan oleh anak secara proporsional. Pujian sanggup diberikan secara mulut maupun non lisan. Misalnya dengan kata-kata yang menyenangkan, atau dengan senyuman, pelukan, dan sumbangan tanda-tanda terentu yang bermakna untuk anak.
Dalam proses pembelajaran, aneka macam acara sanggup dikembangkan oleh pendidik supaya sanggup meningkatkan sosialisasi dan emosi anak. Di antara acara yang sanggup dikembangkan adalah:
Memberikan pilihan pada anak
Memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan kreativitasnya
Memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi lingkungan
Mendorong anak untuk bekerja secara mandiri
Menghargai ide/gagasan anak
Membimbing anak untuk melaksanakan pemecahan masalah
Visi Misi dan Pengembangan Kurikulum RA. Masa usia dini merupakan usia emas pertumbuhan dan perkembangan (golden age) alasannya yaitu perkembangan banyak sekali aspek psiko-fisik yang terjadi pada masa ini akan menjadi peletak dasar sangat fuindamental. Artinya, perkembangan aspek psiko-fisik pada masa usia dini akan menjadi dasar peletak bagi perkembangan selanjutnya. Pada masa ini perkembangan otak anak mengalami peningkatan yang sangat pesat, oleh alasannya yaitu itu pendidikan anak usia dini merupakan dasar bagi perkembangan masa berikutnya, serta merupakan tahap pembinaan awal menuju terbinanya kualitas sumber daya insan Indonesia yang mempunyai daya saing tinggi di kurun globalisasi ini.
Pertumbuhan dan perkembangan anak akan tercapai secara optimal, apabila diciptakan situasi dan kondisi yang aman sesuai dengan kebutuhan anak yang berbeda satu dengan lainnya, sehingga layanan pendidikan yang diberikan harus memperhatikan keberagaman budaya, agama, kondisi alam dan pola kehidupan sehari-hari anak. Selain itu, sangat perlu diperhatikan kodrat anak sebagai makhluk individu, sosial, susila dan religius. Oleh lantaran itu pengembangan anak usia dini berorientasi pada pendekatan berpusat pada anak (student centered).
Pendidikan di Raudlatul Athfal bertujuan untuk menyebarkan sikap, pengetahuan, ketrampilan, daya cipta dan hati nurani anak didik dalam merespon dan mengikuti keadaan dengan lingkungannya menurut pemikiran dan nilai-nilai Islam. Untuk itu pelayanan pendidikan di Raudlatul Athfal harus sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak pra sekolah dengan berlandaskan pemikiran nilai-nilai Islam.
Kurikulum yaitu seperangkat planning dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan materi pelajaran serta cara yang dipakai sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan alat untuk membantu dan menunjukkan pola bagi pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan alat untuk membantu dan menunjukkan pola bagi pendidik dalam melaksanakan tugasnya.
Hal ini lantaran kurikulum secara umum didefinisikan Raudlatul Athfal mengacu pada pemikiran dan nilai-nilai Islam serta filosofi pendidikan anak sebagai landasan berpikir dalam penetapan tujuan, pemilihan materi untuk anak, kegiatan dan suasana berlajar di dalam dan di luar kelas, seni administrasi pembelajaran, pengelolaan kelas, media, sarana da prasarana, penilaian dan assesmen serta kerjasama antara pengelolaan kelas, media, sarana prasarana, penilaian dan assesmen serta kerjasama antara para guru, orang renta dan masyarakat sekitar sekolah.
Kurikulum disusun biar memungkinkan pengembangan keagamaan multipotensi, minat, multi kecerdasan (kecerdasan majemuk), emosional, spiritual dan kinestetik atau fisik-motorik anak didik secara optimal sesuai dengan keunikan dan tahap perkembangan setiap anak. Pengembangan kurikulum merupakan salah satu bab penting dalam proses pendidikan. Pengambanagn kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan yaitu untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Sejalan dengan Undang-undang No.20 tahun 2003 pasal 14 bahwa pendidikan anak usia dini yaitu suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak semenjak lahir hingga dengan usia 6 tahun yang dilakukan mulai rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani biar anak mempunyai kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Berdasarkan undang-undang tersebut, maka pendidikan anak usia dini merupakan masa penting, lantaran awal kehidupan anak merupakan masa yang paling tepat dalam menunjukkan dorongan atau upaya pengembangan biar anak sanggup berkembang secara optimal. Apa yang dialami anak pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya akan berdampak pada kehidupannya di masa yang akan datang.
Oleh lantaran itu pada masa-masa usia dini perlu dilakukan upaya pendidikan yang meliputi upaya stimulasi, bimbingan, pengasuhan, pendampingan dan donasi kegiatan pembelajaran untuk menyebarkan banyak sekali potensi yang dilakukan anak melalui pengembangan kurikulum.
Kurikulum Raudlatul Athfal ini merupakan pembagian terstruktur mengenai dari idelalisme, cita-cita, tuntutan stakeholders, atau kebutuhan-kebutuhan tertentu. Melalui kurikulum ini akan diketahui arah pendidikan, alternatif pendidikan, fungsi pendidikan serta hasil pendiidkan yang hendak dicapai oleh Raudlatul Athfal. Kurikulum ini harus dijadikan pedoman bagi pengelola dan guru RA untuk selanjutnya disempurnakan secara terus-menerus melalui tahapan pengkajian, sosialisasi, advokasi, perintisan oleh tim pengembang kurikulum yang terdiri dari unsur kepala Raudlatul Athfal, guru/ praktisi, komite Raudlatul Athfal, penyelenggara pendidikan, Mapenda Departemen Agama kota/kabupaten dan nara sumber.
Dengan demikian, kurikulum ini bisa mengikuti keadaan dengan perkembangan ipteks dan budaya, serta perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan tanpa melepaskan diri dari pemikiran dan nilai-nilai Islam.
Menghadapi kondisi tersebut Raudlatul Athfal perlu mempersiapkan diri secara mantap dengan menciptakan Rencana Kerja Raudhatul Athfal (RKRA) untuk memenuhi tuntutan perkembangan kurikulum Raudlotul Athfal yang sesuai dengan kondisi, potensi dan karakteristik Raudlatul Athfal dengan model KTSP yang mengacu pada standar pencapaian perkembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) tahun 2004.
Kurikulum Raudlatul Athfal dikembangkan dengan menyesuaikan kondisi, potensi dan karakteristik masyarakat religius dengan lebih banyak didominasi agraris (petani), wiraswasta serta kondisi masyarakat desa Kudar dan aspirasinya terhadap dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) cukup bagus. Pola pendidikan yang dikembangkan di Raudlatul Athfal. Keberhasilan pendidikan di Raudlatul Athfal kepercayaan masyarakat terhadap Raudlatul Athfal.
Raudlatul Athfal telah melaksanakan “kurikulum 2004” namun tahun 2006 diharapkan melaksanakan KTSP. Oleh lantaran itu pada tahun 2015 Tim Pengembang Kurikulum IGRA bersama kepala RA, Guru, yayasan/komite Kementrian Agama Kabupaten Pamekasan berkejasama dengan tim jago dari LKP2-I telah menyusun dan menyebarkan kurikulumnya sendiri dengan mengacu pada UU No.23 tahun 2002 perihal proteksi anak, Undang-undang No.20 tahun 2003 perihal Sistem Pendidikan Nasional, PP No.19 tahun 2005 perihal Standar Nasional Pendidikan, Pemendiknas no 58 tahun 2009 perihal Standar Pendidikan Anaka Usia Dini serta berpedoman pada Panduan Penyusunan Kurikulum Satuan Pendidikan yang dikeluarkan oleh BSSP serta pedoman penyusunan dan implementasi KTSP RA yang dikeluarkan oleh Kanwil Departemen Agama Jawa Timur. Kurikulum Raudlatul Athfal ini akan diimplemtasikan pada tahun 2009.
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di Raudlatul Athfal dinyatakan tercapai apabila kegiatan mencar ilmu bisa mencapai perkembangan penerima didik secara optimal proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan yang cukup dan terencana dengan baik biar sanggup diterima untuk; (1) memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan masyarakat global; (2) mempersiapkan penerima didik dalam menghadapi perkembangan dunia global; dan (3) melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan/atau menyebarkan ketrampilan untuk hidup mandiri.
Untuk menjamin keberhasilan implemntasi kurikulum RA tersebut, dibutuhkan banyak sekali persyaratan, antara lain:
Dukungan semua pemangku kepentingan pendidikan (Stakeholders);
Sosialisasi, pelatihan, diskusi dan lokakarya KTSP;
Pemenuhan dokumen yang dibutuhkan untuk penyusunan KTSP;
Pengembangan sumberdaya insan secara berkelanjutan;
Koordinasi dan pengelolaan yang profesional;
Perluasan kerjsama yang baik dengan banyak sekali pihak;
Semua pihak perlu: (a) memahami KTSP; (b) mempunyai dokumen pendukung;(c) mempunyai kesepakatan untuk berkembang dan maju secara bersama-sama; serta (d) bisa dan mau melaksanakannnya secara baik.
Kurikulum ini harus dijadikan prdoman bagi pengelola dan guru Raudlatul Athfal untuk seanjutnya disempurnakan secara terus-menerus. Dengan demikian, Kurikulum Raudlatul Athfal akan bisa mengikuti keadaan dengan perkembangan ipteks dan berbudaya, serta perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia dengan tanpa melepaskan diri dari pemikiran dan nilai-nilai Islam.
A. Visi, Misi dan Tujuan RA
1. Visi Raudlatul Athfal Mencetak generasi mandiri, kreatif, inovatif, beriman mantap, berwawasan luas dan berakhlak karimah serta unggul dalam prestasi.
Terbiasa melaksanakan kegiatan sendiri dan mempunyai rasa percaya diri
Mampu berkreasi dan selalu mengadakan perubahan ke arah perbaikan atas kreatifitasnya.
Teguh keyakinan terhadap Sang Maha Pencipta dan terbiasa mendirikan sholat lima waktu
Memiliki wawasan luas dari pengalaman belajar
Terbiasa berperilaku baik, benar dan sopan
Terbiasa berkomunikasi dengan bahasa yang santun
Mampu baca tulis arab dan latin serta berhitung
Mampu dalam menghafal surat-surat pendek dan doa-doa sehari-hari
2. Misi Raudlatul Athfal
Membiasakan anak melaksanakan kegiatan sendiri
Memberikan materi yang sesuai dengan pemikiran agama Islam
Menyelenggarakan rutinitas kegiatan yang sanggup melatih kreatifitas anak
Melatih baca tulis Al-Qur’an dan baca tulis latin serta berhitung
Melatih Pembiasaan sikap mental yang disiplin, sopan dan menghormati orang lain.
B. Tujuan Raudlatul Athfal
1. Tujuan Umum Raudlatul Athfal Tujuan umum dirumuskan dengan mengacu kepada tujuan umum pendidikan RA, yaitu:
Membangun landasan bagi berkembangnya potensi penerima didik biar menjadi insan beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri dan menjadi warga yang demokratis dan bertanggungjawab.
Mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional dan sosial penerima didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.
Membantu anak didik menyebarkan banyak sekali potensi baik piskis maupun fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik motorik, kemandirian dan seni untuk memasuki pendidikam dasar.
2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dirumuskan sesuai dengan tujuan Raudlatul Athfal itu sendiri
Mewujudkan sikap anak yang mandiri, kreatif, inovatif sesuai dengan pemikiran agama Islam.
Menyediakan alat peraga edukatif yang menarik dan memadai
Meningkatnya prestasi dan bisa bersaing di Tingkat Nasional
Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana/prasarana serta pemberdayaan-nya yang mendukung peningkatan prestasi siswa
Terwujudnya ruang bermain yang lebih luas
Tersedianya ruang guru yang bisa menampung semua guru
Terwujudnya aula masrasah yang representatif
C. Tujuan Pengembangan KTSP
Tujuan penyusunan KTSP ini untuk dijadikan pola bagi Satuan Pendidikan Raudlatul Athfal dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan yaitu Pendidikan yang mengarah kepada Tujuan Satuan Pendidikan itu sendiri.
D. Prinsip - prinsip Pengembangan KTSP
KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansi setiap kelompok atau satuan pendidikan dibawah koordinasi dan supervisi Kantor Kementerian Agama Kab/Kota. Perkembangan KTSP mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kelulusan (SKL), serta berpedoman pada penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP serta memperhatikan pertimbangan Komite Raudlatul Athfal.
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, serta kebutuhan penerima didik dan lingkungannya. Pengembangan kurikulum diubahsuaikan dengan potensi penerima didik yang berbeda – beda, oleh lantaran itu proses pembelajarannya dilaksanakan secara individual, kelompok dan klasikal.
Bahan asuh dikemas dengan memakai kedekatan dengan tematik yang sanggup menyebarkan seluruh potensi dan aspek perkembangan anak usia dini menurut kebutuhan penerima didik serta tuntutan dilingkungan Raudhatul Athfal.
2. Beragam dan terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik penerima didik, kondisi tempat dengan menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, dan etika istiadat serta status sosial ekonomi dan gender . Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lkal dan pengembangan diri yang dilaksanakan dengan memakai pembelajaran yang terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan menyenangkan
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pngetahuan, tekhnologi dan seni berkembang secara dinamis. Oleh lantaran itu semangat dan isi kurikulum mendorong penerima didik untuk mengenal dan sanggup memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni.
4. Relevan dengan kebutuhan Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan para pemerhati pendidikan(stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan hidup. Oleh lantaran itu pengembangan kurikulum menurut kecakapan hidup atau life skill,dengan memperhatikan pengembangan integritas pribadi,kemandirian,keterampilan berfikir (thinking skill), kecerdasan spiritual, emosional, sosial, musical, kinestetik,dan natural
5. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum meliputi keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan bidang pengembangan yang direncanakan , disajikan secara terpadu dan berkesinambungan
6. Belajar Sepanjang hayat Kurikulum di arahkan pada proses pengembangan , pembudayaan dan penberdayaan penerima didik yang berlangsung sepanjang hayat. Hal ini ditanam kan semenjak dini biar penerima didik bahagia mencar ilmu sepanjang hayat, lantaran kondisi dan tuntunan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan insan seutuhnya
7. Seimbang antara kepentingan global, nasional dan lokal. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kpentingan global, nasional dan local untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan global, nasional dan lokal harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan perkembangan kurun globalisasi dengan tetap berpegang pada motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Republik Indonesia (NKRI)
E. Acuan Operasional Penyusunan KTSP
Operasional penyusunan KTSP Raudlatul Athfal berpedoman pada :
1. Peningkatan Iman dan Taqwa serta etika mulia. Keimanan dan ketaqwaan serta etika mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian penerima didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua bidang pengembangan sanggup menunjang penigkatan dogma dan taqwa serta etika mulia.
2. Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan penerima didik. Kurikulum disusun biar memungkinkan pengembangan keragaman potensi, minat, kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan kinestetik penerima didik secara optimal sesuai dengan tingkat pengembangan.
3. Keragaman potensi dan karateristik tempat dan lingkungan. Daerah mempunyai keragaman potensi kebutuhan, tantangan dan keragaman karakteristik lingkungan, oleh lantaran itu kurikulum Raudlatul Athfal memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan out put yang sanggup menunjukkan kontribusi bagi pengembangan daerah
4. Tuntutan pengembangan tempat dan nasional. Pengembangan kurikulum Raudlatul Athfal memperhatikan keseimbangan tuntutan pembangunan tempat dan nasional.
5. Tuntutan dunia Kerja. Memuat kecakapan perihal hidup (Life skill) untuk mengenalkan dan membekali penerima didik menghadapi kehidupan dunia kerja yang kompetetif dengan melatih dan membiasakan dengan kemandirian, tidak menggantungkan diri pada orang lain.
6. Perkembangan ilmu pengetahuan, tekhonologi dan seni. Kurikulum dikembangkan secara bersiklus dan berkesinambungan sejalan dengan perkembngan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni, dengan mengenalkan alat tekhnologi mutakhir kepada penerima didik.
7. Agama Yang menjadi cirri khas kurikulum Raudlatul Athfal yaitu mendalami agama maksudnya pengenalan penerima didik terhadap rukun iman, rukun islam dan berakhlakul karimah lebih mendalam disertai dengan adaptasi dan pengamalan yang diubahsuaikan dengan tahap perkembangan dan kemampuan penerima didik.
8. Dinamika perkembangan global. Kurikulum dikembangkan biar penerima didik bisa bersaing secara global dan sanggup hidup berdampingan dengan bangsa lain.
9. Persatuan nasional dan nilai – nilai kebangsaan Mendorong wawasan dan sikap kebangsaan serta persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
10. Kondisi Sosial budaya masyarakat setempat Pengembangan kurikulum Raudlatul Athfal dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat lingkungannya dan menunjang kelestarian budaya.
11. Kesetaraan gender Kurikulum Raudlatul Athfal diarahkan kepada pendidikan yang berkeadilan dan mendorong tumbuh kembangnya kesetaraan gender.
12. Karakteristik satuan pendidikan Kurikulum dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan cirri khas satuan pendidikan.